MENGHADAPI KRISIS AIR BERSIH, KOLABORASI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT DIPERKUAT
karawang, 18 september 2026 — Persoalan akses air bersih menjadi salah satu perhatian penting dalam kegiatan reses yang mengangkat tema “Menghadapi Krisis Air Bersih: Bersama Rakyat, Menjaga Sumber Kehidupan.” Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. H. Saan Mustopa, M.Si., Wakil Ketua DPR RI, sebagai narasumber.
Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang berkaitan erat dengan kesehatan, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan ketahanan pangan. Gangguan terhadap akses air bersih tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Materi sosialisasi mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap persoalan air bersih, antara lain perubahan iklim dan musim kemarau ekstrem, pencemaran sumber air, kerusakan daerah tangkapan air, belum meratanya infrastruktur air bersih, meningkatnya kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, serta keterbatasan tata kelola dan pembiayaan.
Krisis air bersih juga memiliki dampak yang luas bagi masyarakat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, menambah beban pengeluaran rumah tangga, mengurangi waktu belajar anak, serta mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Sejumlah program penanganan air bersih yang telah berjalan turut menjadi bagian pembahasan, di antaranya PAMSIMAS, perluasan jaringan PDAM/SPAM, rehabilitasi daerah tangkapan air, serta dukungan anggaran melalui APBN, APBD, dan dana desa.
Dalam rangka menindaklanjuti aspirasi masyarakat, beberapa langkah yang diusulkan meliputi percepatan pembangunan SPAM/PAMSIMAS di desa yang belum terlayani, pengawalan alokasi anggaran infrastruktur air bersih dan sanitasi, perbaikan sumur bor serta sumber air komunal, penyediaan bantuan air bersih pada musim kemarau, konservasi daerah tangkapan air, dan pembukaan kanal pengaduan masyarakat terkait akses air bersih.
Tindak lanjut penanganan juga dirancang secara bertahap. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada respons cepat berupa distribusi bantuan air bersih, perbaikan sumber air yang rusak, dan pendataan kebutuhan masyarakat. Untuk jangka menengah dilakukan penguatan layanan melalui pengajuan anggaran SPAM/PAMSIMAS, perluasan jaringan perpipaan, serta pelatihan pengelolaan air. Sementara dalam jangka panjang diarahkan pada konservasi daerah tangkapan air, perlindungan sumber mata air, dan pengembangan sistem air bersih mandiri berbasis desa.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber air. Masyarakat didorong untuk menghemat penggunaan air, menjaga kebersihan sungai dan mata air, berpartisipasi dalam kegiatan PAMSIMAS maupun kerja bakti, serta melaporkan kerusakan fasilitas air kepada pihak terkait.
Melalui kegiatan reses ini, aspirasi dan kebutuhan masyarakat terkait air bersih diharapkan dapat menjadi bahan tindak lanjut dalam mendorong peningkatan pelayanan dan pembangunan infrastruktur air bersih. Kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan akses air bersih bagi seluruh warga.